DEFINISI
|
1. |
Suspect
case (dugaan) |
|
Penyakit
saluran nafas yang tidak diketahui etiologinya dengan onset sejak
1 Februari 2003, dan criteria berikut ini : |
|
- |
Hasil
pengukuran suhu tubuh lebih dari 38 derajat celcius DAN
|
|
- |
Satu
atau lebih temuan klinis gangguan saluran nafas (seperti batuk,
sesak nafas, kesulitan bernafas, hipoksia, atau temuan radiografi
yang menandakan pneumonia atau sindrom pernafasan distress akut)
DAN
|
|
- |
Bepergian*
dalam 10 hari sejak timbulnya gejala-gejala di atas ke daerah yang
dilaporkan terjangkit SARS (lihat daftar di bawah ini) ATAU
Kontak dekat** dengan seseorang yang diketahui atau diduga menderita
SARS dalam 10 hari sejak timbulnya gejala-gejala. |
|
|
2. |
Probable case (kemungkinan besar) |
|
Suspect
case ditambah satu dari kententuan berikut ini : |
|
- |
Bukti
radiografi dengan pneumonia atau sindrom pernafasan distress akut |
|
- |
Temuan
autopsy yang konsisten dengan distress
respiratory syndrome tanpa dapat diidentifikasi sebelumnya |
|
|
* |
Bepergian
termasuk transit di airport pada daerah yang terjangkit atau diduga
memiliki kasus SARS.
Daerah dengan laporan atau dugaan telah terjadi penularan SARS :
Republik Rakyat China (daratan Cina dan Hongkong (daerah administrasi
khusus), Hanoi, Vietnam, Singapura, dan Toronto, Canada. |
** |
Batasan
kontak dekat ialah : merawat, tinggal dengan, atau kontak langsung
dengan sekresi dan atau cairan tubuh dari pasien yang diketahui
atau diduga menderita SARS. |
|
|
DIAGNOSIS
/ EVALUASI |
|
Test
diagnostik inisial untuk pasien-pasien dengan dugaan (suspect) SARS
harus meliputi : rontgen dada, pulse oxymetri, kultur darah, hapusan
gram dan kultur dahak, dan pemeriksaan untuk patogen-patogen virus
pernafasan, seperti virus influenza A dan B, dan respiratory
syncytial virus. Specimen untuk Legionella dan test
pneumococcal urinary antigen
juga harus dikerjakan. Klinikus harus menyimpan semua specimen yang
tersedia (pernafasan, darah, dan serum) untuk pemeriksaan tambahan
sampai diagnosis yang spesifik ditegakkan. Pada masa akut dan penyembuhan
(setelah hari ke-21 sejak onset munculnya gejala) contoh serum harus
diambil dari setiap pasien yang memenuhi kriteria kasus SARS.
Klinikus yang memeriksa kasus-kasus dengan dugaan SARS harus selalu
mengikuti standar proteksi (hygiene tangan) dan pernafasan (seperti
respirator N-95) dan kontak (seperti jubah dan sarung tangan). Sampai
cara penularan diketahui dengan pasti, proteksi mata juga harus
digunakan oleh semua klinikus yang kontak dengan pasien.
|
|
|
ETIOLOGI
|
|
The
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan laboratorium
lainnya telah bekerja keras guna menemukan penyebab SARS. Salah
satu kuman yang diduga sebagai penyebab SARS ialah coronavirus.
Untuk membuktikan dugaan ini CDC dan laboratorium lainnya berusaha
mengembangkan suatu pemeriksaan / test baru untuk mendeteksi keberadaan
coronavirus yang telah diisolasi dari beberapa pasien SARS.
|
|
|
Siapakah
coronavirus ? |
Coronavirus adalah suatu kelompok virus yang memiliki halo
atau penampakan mirip mahkota (crown –like
/corona) di bawah mikroskop. Virus kelompok ini merupakan
penyebab umum dari infeksi saluran nafas ringan sampai sedang pada
manusia. Pada hewan ia sanggup menimbulkan gangguan pada saluran
nafas, pencernaan, hati, dan jaringan saraf. Coronavirus dapat bertahan
dalam lingkunan bebas selama 3 jam. |
|
|
Pemeriksaan
apa yang tersedia utnuk mendeteksi coronavirus ? |
1. |
Tes antibodi (ELISA – Enzyme Link Immuno Sorbent Assay). Pemeriksaan
ini berupaya mendeteksi antibodi dalam serum penderita. Celakanya,
test ini hanya reliable 20
hari sejak munculnya gejala klinis. Dengan kata lain, pemeriksaan
ini tak dapat digunakan untuk deteksi SARS stadium dini. Selain
ELISA, pemeriksaan lain yang juga berupaya mendeteksi antibody ialah
IFA (Immunoflorescence Assays). Test ini sanggup mendeteksi imunoglobulin
M, 10 hari sejak timbulnya penyakit. Sekalipun hasilnya sungguh
dapat dipercaya, namun dibutuhkan beberapa bahan / alat pemeriksaan
tambahan seperti : mikroskop immunofluoresecent dan virus hidup
dalam kultur sel. |
2. |
Tes molekuler – PCR (Polymerase
Chain Reaction). PCR dapat mendeteksi materi genetik
dari coronavirus dalam berbagai specimen
(darah, tinja, atau lendir saluran nafas). Untuk dapat melakukan
pemeriksaan ini beberapa primers telah dibuat oleh Centers
for Disease Control and Prevention
Amerika Serikat, Laboratorium Klinik Federal Canada, Universitas
Hongkong, and Unit Virus Pemerintah Hongkong dan Canada. Kekurangan
cara ini ialah tingginya kejadian false
negative (negatif palsu). Artinya seseorang yang membawa
/ memiliki virus ini tidak terdeteksi melalui pmeriksaan (hasil
pemeriksaan negatif). Keadaan ini sungguh berbahaya, lebih-lebih
saat sekarang. Saat kita sedang gigihnya memutus penularan infeksi.
|
3. |
Kultur sel . Virus dari berbagai specimen
(lendir pernafasan, darah) penderita SARS dapat dideteksi dengan
menginfeksi sel kultur seperti sel-sel VERO. |
|
|
Hasil
tes positif menandakan pasien tersebut sedang atau baru saja terinfeksi
coronavirus. Namun, hasil
yang negatif dari seluruh pemeriksaan di atas tidak berarti pasien
TIDAK menderita SARS. |
|
|
Hasil
test negatif. Diagnosis SARS tidak bersandar pada temuan laboratorium,
tetapi lebih pada evaluasi klinis dan riwayat paparan / eksposur.
|
|
|
Hasil
test negatif dapat berasal dari : |
1. |
False negative (negatif palsu).
Artinya : hasil test negatif, namun sesungguhnya pasien terinfeksi
(di dalam badannya terdapat coronavirus). Para ahli masih terus
berupaya menekan tingginya kejadian false negative ini . |
2. |
Pasien tidak terinfeksi coronavirus. Pasalnya sampai hari ini kita
belum sepenuhnya mengetahui jika betul coronavirus yang jadi kausa
flu misterius ini. Tidak tertutup kemungkinan patogen lain pun (viru
atau baketri lain) melahirkan gejala-gejala gangguan pernafasan
dan pneumonia. |
3. |
Specimen tidak diambil pada
saat virus atau materi genetiknya diekskresi (dikeluarkan). Periode
eksresi dapat demikian singkat, tergantung dari jenis specimen yang
diperiksa.
|
|
|
TERAPI |
Oleh
karena etiologi dari penyakit ini belum diketahui, belum ada rekomendasi
terapi yang spesifik. Terapi empirik harus meng-cover organisme
yang berkait dengan community –acquired pneumonia dengan penyebab
yang tidak jelas, meliputi agent dengan aktivitas yang sanggup melawa
patogen pernafasan yang tipikal dan atipikal. Pilihan terapi juga
ditentukan oleh beratnya penyakit. Konsultasi dengan konsultan penyakit
infeksi sangat dianjurkan. |